| Senandung di Malam Hari Oleh: Emmusa Qadarsyah (Bobo No.
17/XXIX)
Wajah ceria Aril berubah masam begitu melihat kedatangan sepupunya yang bermulut besar itu.
"Hei, kenapa tampangmu menyebalkan begitu?" tegur Raka.
Aril melengos, pura-pura memperhatikan jam tua yang melekat di dinding depan kamarnya. Uh! Kenapa dia diundang juga? keluhnya dalam hati. Aril menduga liburannya di rumah Tante Mira kali ini akan menjadi neraka baginya.
Saat makan malam, Aril memilih diam. Tidak seperti kemarin, ia banyak bercerita. Itu karena ia menyadari mata Raka terus mengawasinya. Dia pasti sedang mencari alasan untuk mengolok-olokku lagi, tukas Aril membatin.
"O ya, Tante juga mengundang Diana. Dia berjanji akan datang besok," ucap Tante Mira memecah keheningan malam itu.
"Wow, ini baru kabar bagus!" seru Aril riang. "Aku sudah tak sabar untuk berjumpa dengannya lagi."
"Ya
kamu kan butuh teman malam ini, penakut!" celetuk Raka.
"Aku sudah biasa tidur sendiri, kok!" bantah Aril.
"Tapi, aku ragu kamu bisa terlelap nanti."
Aril mencibir mengingat tebakan Raka tadi. Buktinya, ia nyenyak sekali kemarin. Tapi
sekarang kan malam Jum'at! Pikirannya cemas, jadi sulit memejamkan mata. Hingga terdengar dentangan dua belas kali, lalu
"Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, hijau kuning kelabu, merah muda dan biru
"
Deg! Aril membelalak kaget. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Oh, suara apa tuh? Batinnya ngeri. Mengapa menyanyi selarut ini? Anak kecilkah, atau
h-hantu?!
Keesokannya, Aril terbangun oleh suara tawa Raka. Rupanya, sepupunya itu mengintipnya dari jendela. "Aku melihatmu sembunyi di balik selimut. Apa yang kau takuti? Apakah ada hantu yang mengunjungimu, ha?" teriaknya meledek.
"T-tidak. Aku
cuma kedinginan, kok," kilah Aril pelan.
"Apa? Aduh, dia berkeringat dingin!"
Ternyata hanya Aril yang mendengar senandung bocah misterius itu semalam. Tante Mira mengaku tidak mengetahui apa-apa, beliau tertidur pulas. Lalu, bagaimana dengan Raka?
"Ah, kamu pasti bermimpi!" tukas Raka tak percaya. "Aku tak mendengar apapun. Padahal kamar kita kan bersebelahan?"
Dahi Aril mengkerut. Bukankah nyanyian itu sangat nyaring? Batinnya heran.
"Hohoho
itu sebabnya kamu gemetaran tadi pagi, kan? Apa kamu kira itu ulah hantu?" nada suara Raka mulai mengejek. "Kamu pasti ketakutan setengah mati semalaman. Menurutmu, hantu itu akan menelanmu bulat-bulat?"
Aril meringis. Kini ia menyesal telah bicara dengan si sombong itu. Harusnya ia tahu, Raka cuma akan mengoloknya!
"O ya, ada berita buruk buatmu. Diana tak jadi datang hari ini. Sepertinya, kamu terpaksa sendirian lagi. Hati-hati, lo!" lanjut Raka. "Apa perlu kutemani?"
Gawat! Desah Aril. Ia tak yakin mampu menghadapi hantu itu bila benar-benar muncul nanti malam. Tapi
berdekatan dengan Raka juga bukan ide yang baik.
Pilihan bodoh! Jerit Arit dalam hati. Malam itu, Aril bersama Raka jauh lebih tersiksa. Bayangkan, Raka suka membaca cerita seram dengan keras sebelum tidur! Aril jadi semakin ketakutan dibuatnya. "S-sudah, dong! Kamu mau nantang hantu, ya?" tegurnya.
Raka malah cekikikan. Ia senang melihat Aril pucat pasi.
Tetapi itu tak lama, karena
bocah yang tak kasatmata itu mulai bersenandung lagi! Dan
dengan lagu berbeda!!
Aril buru-buru menyembunyikan diri di balik selimut. Sedang Raka
ia mematung, tercengang hingga tubuhnya kaku, dan
ngompol!
Hari sudah sore ketika Diana datang keesokannya. Ia tergelak menerima laporan dari kedua sepupunya itu. Apalagi mengetahui Raka jadi penakut, sampai terkencing-kencing !
"Sudah!" pinta Raka dengan wajah semerah tomat. "Sekarang, bagaimana dengan hantu kecil itu Diana?"
"Kamu kok tenang-tenang saja, sih?" sambung Aril heran, melihat Diana cuma tersenyum.
"Sini
kalian ikuti aku!" ajak Diana menuju kamar Aril. Kemudian ia menunjuk jam tua yang terawat bersih itu. "Nah, itu milik almarhum Om Nanang, suami Tante Mira," ucapnya.
Aril dan Raka saling berpandangan, bingung. Apakah Diana bermaksud memberitahu sarang hantu itu? D-dan di jam itukah? "Jadi
hantu Om Nanang?!" desah Aril.
"Hei, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan! Maksudku, Om Nanang sangat menyukainya. Beliau selalu memperbaiki dan memperbarrui peralatan di dalamnya. Terakhir, Om Nanang sempat memasang weker yang bagus. Tapi sayang, belakangan ini sering rewel, rusak!"
"Diana, jangan berbelit-belit!" potong Arilk tak sabar.
"Singkatnya, jam ini bisa bernyanyi sendiri. Om Nanang menambahkan rekaman suara nyanyian anak-anak, lagunya bermacam-macam," lanjut Diana. "Jadi, inilah yang kalian takuti selama ini!"
Aril menatap jam tua itu. Ia masih sangsi. "Bohong, ah! Lalu, kenapa cuma berbunyi di malam hari? Itu pun tidak teratur."
"Kan sudah kubilang, dia suka rewel!" tandas Diana.
Akhirnya Aril bisa bernapas lega, karena tak ada hantu! Hanya saja
Aril masih suka kaget bila tiba-tiba jam itu kembali bernyanyi. Habis, senandung anak-anak kecil itu tak pernah utuh!***
|