| Gadis Berkursi Roda Oleh: Ferina (Bobo No.
46/XXVIII)
"Selamat pagi, anak-anak!" seru Bu Guru sambil memandang murid-muridnya yang tampak mengantuk. "Wirya! Di kelas kok ketiduran?"
Ternyata anak-anak di kelas itu menonton sepak bola sampai larut malam.
"Seru Bu! Belanda lawan Itali!" kata Wirya sambil menguap.
"Wah, padahal hari ini ada kabar baik untuk kalian semua," kata Bu Guru. "Ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita," ujar Bu Guru.
Anak-anak mulai ribut. Sibuk menebak apakah murid baru itu perempuan atau laki-laki. Bu Guru bergegas ke luar, kemudian masuk kembali sambil mendorong sebuah…kursi roda! Ada seorang anak perempuan duduk di atasnya.
"Kenalkan, namanya Katharina. Panggilannya, Katy," kata Bu Guru. Anak-anak diam saja. Suasana terasa sangat sepi. Katy mengangguk, lalu bersalaman dengan semua murid. Mereka semua kelihatan kecewa dan mengantuk lagi. Teman yang duduk di kursi roda, pikir mereka, tak akan bisa diajak bermain…
Katy duduk di sebelah Ranti yang manis dan ramah. Ranti mengajak Katy bersalaman lagi, karena kini Katy sudah jadi teman sebangkunya. Mereka berdua mulai bercakap akrab. Tiba-tiba Ranti mendengar suara Toni dan Andi,
"Eh, si Ranti sedang ngobrol dengan si Kursi Roda!"
Terdengar juga bisik-bisik Susi dan Fitri yang mengejek Katy. Ranti marah mendengar perkataan teman-temannya yang bisa membuat Katy sedih.
Saat makan siang di kantin, Ranti mencari meja kosong untuk makan. Dan ia melihat Katy yang duduk sendirian dan murung. Rupanya tak ada seorang pun yang ingin menemaninya. Ranti segera menghampirinya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Ranti.
"Boleh," jawab Katy serak. "Mmm, Ranti…kau mau datang ke rumahku nanti sore?" tanya Katy ragu. "Sebetulnya aku ingin semua murid di kelas datang, tapi …" kalimat Katy terpotong. "Ah, pokoknya kamu mau tidak?"
"Tentu saja. Aku ingin tahu banyak tentangmu. Misalnya… mmm… mengapa kamu bisa sampai duduk di kursi roda?" tanya Ranti ragu, takut menyinggung perasaan Katy.
"Aku akan menceritakannya padamu. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat karibku walau kita baru kenal sehari. Karena selama ini tidak ada yang mau berbicara dengaanku," sahut Katy, lalu mulai bercerita dengan wajah sedih.
Ketika berusia enam tahun, Katy terjatuh dari ayunan yang talinya putus. Punggungnya terasa sangat sakit. Ia lalu dibawa ke rumah sakit. Dan dirawat selama sebulan karena kedua kakinya tidak bisa merasakan apa-apa. Ternyata Katy menjadi lumpuh dan harus memakai kursi roda selama hidupnya.
"Sejak itu teman-temanku menjauhiku. Aku sangat sedih dan sering minta pindah sekolah. Tapi ternyata percuma. Kemanapun aku sekolah, aku selalu dianggap orang cacat yang tidak berguna!" kata Katy sedih.
Ranti terharu melihat ketabahan Katy. Mereka lalu mengganti bahan pembicaraan agar tidak membuat Katy sedih. Ranti sendiri tidak tahan ingin menangis mendengar cerita Katy.
Tepat pukul 13:00, bel berbunyi. Waktunya pulang sekolah.
"Jangan lupa, ya! Jam 4 sore ke rumahku," seru Katy mengingatkan Ranti. "Oke!" jawab Ranti sambil melambai.
Pukul 15:20, Ranti pergi ke rumah Katy yang tidak jauh dari rumahnya. Katy menyambutnya gembira, dan langsung mengajak Ranti ke kamarnya.
"Hey, medali apa ini, Kat?" Ranti mengamati medali-medali di kamar Katy.
"Dari perlombaan renang sewaktu masih TK. Tapi aku tidak bisa renang lagi sekarang, " suara Katy terdengar sendu. "Eh, tapi aku bisa main bola basket memakai kursi roda. Hampir tiap sore Ayah mengajak aku bermain basket. Tapi mana ada perlombaan basket yang mengijinkan memakai kursi roda, ya kan?"
Tok, tok, tok!
Ibu Katy membuka pintu, membawa makanan kecil dan minuman. "Ayo makan!" ujarnya ceria. "Tante senang sekali Ranti mau datang ke sini. Sudah lama Katy tidak dikunjungi temannya. Oh ya, Katy, ajak Ranti main basket di taman, ya!" ujar ibu Katy lagi, terdengar seakan Katy bisa berjalan. Ranti kagum, karena ibu Katy tidak memperlakukan Katy seperti orang lumpuh.
Setelah menikmati biskuit dan es jeruk, Katy mengambil bola basketnya. Ia dan Ranti lalu menuju ke lapangan basket. Tak disangka! Ternyata Katy dapat bermain basket dengan lincah. Lemparan bolanya selalu masuk. Tapi tiba-tiba,
"Hei, Kursi Roda!"
Katy menoleh. Ternyata Wirya dan Andi yang usil.
"Kami juga punya roda! Nih!" mereka menunjukkan sepatu roda yang sedang mereka kenakan. "Ayo, kita tanding basket. Katy pakai roda, kami juga! Ranti, kamu jadi juri. Hitung berapa skor kami dan skor Si Kursi Roda."
"Namaku Katy, bukan Si Kursi Roda!" teriak Katy marah.
"Ayo, mulai pertandingannya!" kata Andi. Pertama dia melempar. Lalu Wirya. Kedua bola mereka masuk. Giliran Katy. Masuk juga.
Pertandingan berlangsung sekitar 30 menit. Akhirnya Ranti si juri mengumumkan skor mereka. Ternyata skor Katy paling tinggi.
"Bagaimana dia bisa menang?! Dia kan …"
"Memang, Katy duduk di kursi roda. Tapi dia jago basket! Dulunya juga dia jago renang. Medali emasnya banyak!" ujar Ranti bangga.
"Wah, hebat sekali. Kami boleh lihat?" tanya Wirya penasaran.
"Boleh. Asal jangan memanggilku si Kursi Roda lagi!"ujar Katy.
Mereka lalu pergi ke rumah Katy. Wirya dan Andi sangat kagum melihat medali-medali Katy.
"Wah, kamu hebat, Kat!" seru Andi sambil mengusap-usap salah satu medali emas Katy. "Kenapa kamu tidak cerita di sekolah? Semua orang pasti tidak memanggilmu Si Kursi Roda lagi!"
"Aku tidak mau sombong," kata Katy tersipu-sipu.
Keesokan harinya, Wirya dan Andi menceritakan kejadian kemarin pada teman-temannya. Semua anak memuji Katy. Kecuali Toni, si jago basket yang bertubuh paling tinggi. Ia tidak percaya pada cerita Wirya dan Andi. Sampai suatu hari, Pak Bobi, guru olahraga mereka, membagi tim untuk bermain basket. Tim Katy cs dan Tim Toni cs.
Toni hanya tersenyum meremehkan. Namun, saat pertandingan dimulai, Katy mulai "beraksi". Walau memakai kursi roda, Katy ternyata kuat. Tangan kiri digunakan untuk mendorong kursi roda dengan cepat. Lebih cepat dari lari Toni! Tangan kanan digunakan untuk menggiring bola dan mengoper kepada timnya. Kadang bola langsung dilempar ke keranjang, dan… masuk! Akhirnya skor 4-0
"Horeee! Kita menang!" seru tim Katy gembira.
Pak Bobi sangat takjub dan mendekati Katy.
"Katy! Kamu sangat hebat! Sebenarnya saya sedang mencari pemain berbakat untuk bertanding di tingkat nasional. Kamu mau, kan, ikut latihan basket tambahan, empat kali seminggu?"
"Terimakasih banyak, Pak Bobi. Saya akan minta ijin Ibu dulu," jawab Katy.
Sementara itu Toni sangat kaget. Karena selama ini Pak Bobi tak pernah menawarkannya untuk latihan basket tambahan. Toni sadar dan merasa malu.
"Katy, selamat ya. Maafkan aku," ujar Toni akhirnya.
Katy hampir menangis karena akhirnya dia mendapat perhatian dan persahabatan sejati di sekolah.
"Jangan menangis dong, Kat! Sudah bahagia kok menangis lagi?" Ranti bercanda sambil tertawa.
Sejak itu Katy bukanlah Si Kursi Roda yang "kuper". Dia adalah Katy, gadis berkursi roda yang "super."
|