| Bagaimana Mungkin Ada Hantu Lain? Oleh: Maria Theresia Lahur (Bobo No.
43/XXVIII)
Ha... ha... tawa seluruh anak kelas V B SD Purnabakti. Siapa yang tidak mengenal Aryo, siswa baru yang terkenal pembual di kelas itu. Setiap cerita seram tentang rumah tua di Jalan Penitian yang dianggap angker oleh masyarakat, dijadikan bahan lelucon oleh Aryo.
"Benar! Rumah tua itu akan dirubuhkan untuk jadi pemukiman baru. Jadi, mas dan mbak hantu yang tinggal disana siap-siap angkat kaki," ujar Aryo disambut gelak tawa teman-teman.
"Huu... kesal rasanya aku mendengar bualan Aryo itu," ketus Nana.
"Iya, diberitahu yang benar tentang rumah tua tersebut malah tidak percaya," timpal Wulan.
"Perlu diberi pelajaran si sok berani itu," sungut Reno.
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Murid-murid di SD Purnabakti berlarian keluar dari kelas masing-masing.
"Yo... Aryo, nanti malam setelah menonton di balai desa, kita pulang sama-sama, ya!" ajak Reno.
"Boleh," Aryo menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Malamnya setelah menonton di balai desa, mereka pun pulang.
"Hei, Ren kenapa lewat jalan ini?" tanya Aryo.
"Kamu takut lewat rumah yang mau dirubuhkan itu?" Reno balik bertanya.
"Siapa takut, ayo kita jalan," ujar Aryo tak mau kalah.
"Krik... krik... " suara jangkrik membuat suasana malam yang sunyi sayup-sayup terdengar ramai.
"Aduh, kakiku tertusuk paku," ringis Reno memegang kakinya.
"Payah kamu. Masa' aku harus memapahmu sampai ke rumah," sungut Aryo.
"Kalau kamu tidak mau menolong, tinggalkan saja aku di sini," ujar Reno.
Aryo akhirnya memapah Reno menuju ke rumah tua itu untuk mencari tempat duduk.
Ketika mereka baru saja akan duduk, tiba-tiba rumah yang gelap gulita itu menjadi terang benderang. Aryo dan Reno yang melihatnya tampak heran.
"Ayo, kita masuk ke dalam,. Mungkin ada yang menempatinya," ajak Reno.
"Tapi... ya, sudah," angguk Aryo ragu-ragu seperti menyembunyikan sesuatu, tetapi segera mengikuti Reno ke dalam.
Di dalam ruangan itu terdapat lentera kecil sumber penerangan yang mereka lihat tadi. Dinding ruangan itu terlihat hitam menampakkan habis terbakar api.
"Aku mendengar bahwa keluarga yang menempati rumah ini dulu tewas terbakar api," cerita Reno. Bahkan anaknya juga tidak terselamatkan," tambahnya.
"Ya, aku tahu sedikit," Aryo membenarkan.
Udara malam makin dingin menambah suasana saat itu kian mencekam. Tiba-tiba sosok seorang gadis muncul di hadapan mereka memakai gaun tidur berwarna putih. Reno dan Aryo yang melihatnya tampak terkejut.
"Hih... hi... ada hantu…" teriak Reno ketakutan.
"Tetapi, bagaimana mungkin ada hantu lain di rumah ini?" ujar Aryo seperti orang pikun.
"A... apa maksudmu ada hantu lain? Dan mengapa kamu tidak lari?" tanya Reno bingung.
"Sebab anak yang tewas itu adalah aku. Hanya akulah hantu yang tinggal di sini," ungkap Aryo polos.
"Jadi, kamu telah meninggal," ucap gadis cilik itu. "Kak Reno, ayo pergi dari rumah ini," tambahnya.
"Tunggu! Wulan, Nana, ayo keluar," seru Reno.
Satu persatu mereka keluar, lalu berkumpul. Aryo pun menjelaskan kata-katanya tadi. Ia menceritakan bahwa dirinya adalah hantu gentayangan. Ia tak dapat meninggal dengan tenang akibat sifat nakalnya yang membuat orang tuanya sedih. Hingga suatu hari ia pun mendapat musibah kebakaran yang terjadi karena ulahnya bermain-main dengan api.
Sejenak suasana di ruang itu menjadi hening.
"Ha... ha... ha… akhirnya senjata makan tuan," tawa Aryo membuat yang lain terkejut.
"Sialan! Bagaimana kamu bisa tahu rencana kami yang tersusun rapi ini?" tanya Reno sambil menggelengkan kepala tidak percaya.
"Memangnya aku tidak mendengar, saat kalian menyusun rencana ini di kantin," ungkap Aryo.
Reno hanya bisa tersipu malu mendengarnya. Ia bersama adiknya serta Wulan dan Nana meminta maaf kepada Aryo. Reno juga menjelaskan kalau ia melakukan itu hanya untuk memberi pelajaran kepada Aryo agar sedikit percaya pada apa yang diceritakan orang. Serta tidak terlalu bersikap sok berani.
"Aku percaya kok, pada cerita orang. Aku juga bukannya sok berani tetapi memang manusia paling berani," kata Aryo dengan sombong.
"Hu... uh... lebih baik kita tinggalkan saja dia di sini," ujar Nana ketus.
"Eh, siapa takut. Silakan saja kalau mau pergi," ujar Aryo angkuh.
Saat Reno, adiknya, Wulan dan Nana pergi, Aryo segera lari menyusul.
"Hei, tunggu aku," teriak Aryo.
Serentak Reno, adiknya, Wulan dan Nana berkata, "Dasar... sok berani, sih!"
|