PInter
Hadiah Dari Shinta

Oleh: Angelina Maran (Bobo No. 40/XXVIII)


Kamu pernah nggak merasa kesal? Bukan cuma kesal, tapi kesal sekali. Inginnya marah-marah terus. Sayangnya, orang yang akan dimarahi itu tidak akan mengerti. Nah, ada seseorang yang membuatku kesal seperti itu. Kamu tahu siapa? Dia adik perempuanku satu-satunya, Shinta. Adik baruku yang masih bayi.
Karena dia aku kehilangan peluang emas yang sudah setahun kutunggu-tunggu. Selama ini aku sudah mati-matian belajar agar bisa masuk ranking 10 besar di kelas. Memang sih aku selalu masuk ranking 10 besar di kelas setiap cawu. Dan aku samasekali tidak boleh lengah. Sebab setiap cawu selalu muncul nama-nama baru penghuni ranking 10 besar. Hanya 3 atau 4 orang saja yang bisa bertahan setiap cawu di 10 besar. Itupun berbeda urutan, bisa turun atau naik. Dari pengalamanku yang sudah-sudah, untuk mencapai ranking 10 sebenarnya tidak perlu terlalu ngotot belajar. Tapi aku pantang bila harus masuk 10 besar tapi yang hanya urutan paling akhir.
Selama ini aku punya sebuah keinginan. Aku ingin memiliki personal computer (PC) yang selalu ada di meja belajarku di kamar. Tetapi PC yang kuinginkan ini harus lengkapi dengan fasilitas Internet. Aku ingin punya e-mail. Tetapi angkuhnya, aku tak mau PC itu belikan dari uang papa mamaku. Aku ingin beli dengan uang tabunganku sendiri.
Kamu pasti berpikir, kapan bisa terbeli kalau hanya mengandalkan tabungan dari uang saku? Tetapi aku punya target. Setiap kenaikan kelas, Mama memfotokopi raporku dan menyerahkannya ke kantornya karena aku selalu berada di 5 besar. Kantor tempat mamaku bekerja memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak karyawan yang masuk 10 besar setiap kenaikan kelas. Dan uang beasiswanya sangat besar bagiku. Itulah sebabnya dari tahun ke tahun aku berusaha keras untuk bisa mendapatkan uang itu. Serupiah pun tak pernah kupakai. Selalu utuh dalam tabunganku di bank.
Tetapi Juli lalu Mama cuti lama sekali. Sehingga ketika masuk kantor lagi, Mama baru sadar kalau batas penyerahan fotokopi rapor kenaikan kelas sudah lewat. Itulah yang membuat aku kecewa. Mama telah merusak semua rencanaku. Cita-citaku. Usahaku selama ini serasa tidak ada harganya. Seharusnya tahun ini PC yang kukhayalkan itu sudah bertengger di meja belajarku. Dan dengan fasilitas internet aku akan melanglang buana mencari teman, informasi, dan lain-lain.
Aku jadi sebel tidak karuan terhadap Shinta. Waktu Shinta lahir, serasa akulah kakak yang paling bahagia di dunia ini. Dua adikku laki-laki semua, nakal-nakal lagi. Aku masih ingat, betapa cerewetnya aku saat menceritakan adik baruku itu dimana saja. Di sekolah, waktu menelepon, sampai ketika berada di mobil jemputan. Malahan dari hari kehari aku selalu membandingkan Shinta dengan Widya, adik temanku. Aku hafal berat badannya, kepandaiannya, kebiasaannya bahkan juga sifat jeleknya. Kalau Mama lengah aku mencuri-curi menggendongnya dan membawanya ke taman depan rumah dengan harapan agar teman-temanku melihatnya. Selalu pujian yang keluar dari mulut mereka.
Tetapi…sejak aku kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa, aku jadi sebal pada adik bayiku itu. Mama cuti, kan, karena melahirkan dia. Kini, enak saja dia disayang-sayang, dipuji-puji dan dijaga setiap saat. Hampir seluruh perhatian Mama dicurahkan untuk dia. Aku dan dua adikku bagai anak-anak tiri. Kini, jika dia tidur, aku sengaja pasang kaset, main sega atau membawa teman-teman ke dalam rumah sehingga dia terbangun. Mama tentu saja marah, tapi apa peduliku. Dan macam-macam lagi kelakuanku untuk balas dendam kepadanya.
Sampai suatu malam adik Shinta muntah-muntah. Apapun yang diberikan Mama tidak dapat masuk ke lambungnya. Hari itu Minggu malam, tidak ada dokter anak. Papa dan Mama terpaksa membawa Shinta ke klinik 24 jam. Ketika tengah malam Shinta tidak membaik, Papa dan Mama memutuskan membawanya ke rumah sakit. Diam-diam aku merasa iba melihat matanya yang biasanya hitam bulat dan bercahaya kini redup. Tubuhnya lemas kehilangan keceriaannya seperti hari-hari kemarin. Sudah sekitar 10 jam tidak ada makanan yang masuk ke lambung adikku. Aku tidak mengira sakit adikku tenyara cukup parah. Di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Shinta langsung diinfus, dirontgen, lalu diambil darahnya untuk dicek di laboratorium. Kesimpulannya Shinta harus dioperasi, karena ada benjolan di perutnya yang ternyata usus yang membelit.
Mama menangis dan hampir pingsan ketika adikku dipasangi slang melalui hidung, harus berpuasa dan lain-lain. Mama berlari-lari menjauh sambil terus menangis dan berusaha menutup kedua telinganya agar tidak mendengar tangisan adik Shinta yang kesakitan. Aku bingung harus berbuat apa. Harus menghibur Mama yang menangis? Menyusul Papa yang sedang telpon ke opaku yang menjaga dua adikku di rumah? Atau…..
Secepat kilat aku berlari dan berusaha menyelinap ke UGD lagi. Aku ingin menunggui adikku, dan aku tidak boleh menangis. Mendadak rasa dendamku hilang. Rasa sayangku kembali lagi dan malahan lebih besar lagi.
Dinihari itu, ketika dokter bedah memutuskan untuk membatalkan operasi yang sudah dijadwalkan, aku bersyukur kepada Tuhan. Kali ini aku ingin menangis sekeras-kerasnya, ingin memeluk adikku yang lucu. Kemarin-kemarin aku sudah menjadi kakak yang paling jahat di dunia. Shinta terlalu berharga bila kubandingkan dengan sebuah PC. Tuhan, Sang Pencipta pun memelihara dia dengan baik, menyembuhkan dia dari sakit. Rasanya, amat pantas bila Tuhan menghukumku.
Hari ini sudah ada PC di meja belajarku. Bukan aku yang membelinya dari uang tabunganku. Bukan juga orangtuaku. Tapi PC itu hadiah dari adikku tercinta yang baru lima bulan umurnya. Bagaimana mungkin? Papa dan Mama sudah menyiapkan dana operasi baginya, tetapi Tuhan berkehendak lain. Hingga dana yang tidak terpakai itu dapat dibelikan sebuah PC untukku.
Sekarang ini, bagaimanapun senangnya aku bermain dengan komputer, tetap saja lebih bahagia jika bermain dengan adikku yang cantik, lucu dan sekarang sudah gendut.


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.