| Gaun Indah Dari Papa Oleh: Evi Indriani (Bobo No.
39/XXVIII)
Aku dan Mama tiba di rumah saat hampir pukul setengah delapan malam. Kami baru saja pulang dari pusat perbelanjaan.
"Senyum-senyum terus. Senang ya, dapat baju bagus?" goda Mama. Aku hanya tertawa. Di kamar dengan tak sabar kucoba baju baruku. Benar-benar indah! Warnanya hijau pastel dipadu putih gading. Akhirnya, keinginanku untuk punya baju seperti ini terpenuhi juga. Baju baruku ini hampir sama dengan baju yang dibelikan Papa beberapa tahun lalu. Aku menyimpannya di laci lemariku.
Kubuka laci lemari dan kuambil kantung plastik warna hitam. Dari dalamnya kukeluarkan baju yang sangat istimewa itu dan kutempelkan di badanku. Tentu saja sudah kekecilan. Baju itu diberikan ketika umurku 9 tahun.
Sesaat haru menyeruak di hatiku. Ya, waktu berjalan cepat. Tak terasa sudah tiga tahun Papa meninggalkan aku dan Mama. Kuhela napasku dengan berat, kupeluk baju baru yang tak pernah kupakai itu. Kejadian tiga tahun lalu seolah terjadi lagi….
Siang itu adalah hari yang tak terlupakan. Papa pulang setelah selama dua bulan meninggalkan kami untuk bertugas. Aku berlari-lari menuju garasi, dan Papa berdiri dengan kedua tangan terbentang.
"Mia kangen sama Papa!" kataku ketika tiba di pelukannya. Papa tertawa.
"Papa juga kangen sekali! Ini Papa bawa oleh-oleh buat kamu!"

Segera kubuka bungkusan dari Papa. Sebuah gaun indah!
"Ini untuk dipakai saat Ied!" ujar Papa.
Saat itu Lebaran memang tinggal beberapa hari lagi. Kucoba gaun itu dan aku sangat menyukainya. Apalagi Mama pun lalu membelikan sepasang sepatu berwarna putih gading. Lebaran nanti rasanya akan penuh kebahagian.
Mama mulai sibuk menyiapkan kue-kue kering. Papa mengganti tirai-tirai dan memasang karpet baru. Sementara aku menyiapkan kartu-kartu lebaran untuk teman-teman. Semua sibuk tapi merasa bahagia. .
Tapi kebahagiaan itu lenyap ketika aku dan Mama mendengar berita mengejutkan di saat Lebaran. Papa mengalami kecelakan sepulang mengantarkan Mbak Enah, pembantu kami, ke kampung halamannya. Papa tidak tertolong lagi.
Rasanya aku tak mau mempercayai kabar itu. Bagaimana mungkin Papa meninggalkan aku secepat itu? Baru tadi siang aku dan Papa menggoda Mama yang sedang sibuk mengisi ketupat. Baru tadi siang Papa memberikan sebatang coklat untuk di makan saat berbuka puasa…. Tapi kini? Yang ada dihadapan aku dan Mama, adalah sebujur tubuh yang kaku. Oh, Papa… Aku dan Mama saling berpelukan. Tangis kami pecah di antara suara takbir yang khidmat.
Tak kusadari air mata mengalir di pipiku. Kupeluk gaun indah dari Papa. Oh, Papa…aku rindu untuk merayakan Lebaran bersamamu, seperti dulu…
Tiba-tiba pintu terbuka dan Mama masuk. Cepat-cepat kuhapus air mataku. Aku tahu, Mama pun sangat kehilangan Papa. Dan air mataku ini bisa membuat Mama kembali sedih.
"Kok lama sekali, Mia? Ayo kita makan. Kamu 'kan… lo…"
Terlambat. Mama sudah melihat gaun indah dari Papa yang sedang kupeluk. "Ini baju dari Papa dulu, kan? Kenapa tidak pernah dipakai?" tanya Mama. "Kebetulan kalau begitu. Kamu tahu Surti, anaknya Pak Udi?"
Aku mengangguk. Pak Udi dulu bekerja sebagai supir kami. Peristiwa kecelakaan tiga tahun lalu tidak hanya mengakibatkan Papa meninggal, tapi juga Pak Udi menjadi buta.
"Bagaimana kalau baju ini untuk Surti?"
Aku sangat terkejut mendengarnya. "Jangan, Ma!" jawabku spontan.
"Kenapa?" tanya Mama.
Kenapa? Jadi Mama tidak tahu betapa aku mencintai baju ini? Jadi Mama tidak mengerti bahwa baju ini menyimpan seribu kenangan? Tiba-tiba aku merasa sedih dan marah.
"Ini baju dari Papa, Ma! Mia sengaja menyimpannya karena baju ini adalah pemberian Papa yang terakhir. Tak mungkin Mia berikan kepada orang lain!" jawabku ketus.
"Hey, jangan bentak-bentak begitu sama orang tua!" jawab Mama tak kalah ketus. "Mama cuma usul, boleh diterima boleh tidak!" Mama keluar dari kamarku.
Aku terhenyak. Rupanya aku tadi terlalu kasar sehingga Mama tersinggung. Aku menyesal. Sepulang kerja tadi Mama langsung mengantarku mencari baju. Pasti Mama lelah sekali.
Oh, tapi gaun indah ini adalah bukti sayang Papa kepadaku. Penghapus rasa sedihku. Tak mungkin kuberikan pada orang lain. Kuhela napasku. Aku mencintai Papa, dan Mama pasti tahu itu. Sesaat aku tercenung. Mataku terasa panas dan basah...
Segera kuhampiri Mama di ruang makan. Mama sedang makan sendirian.
"Ma…, maafkan Mia, ya. Mia kaget waktu dengar baju itu akan diberikan ke Surti. Baju itu…sangat berarti buat Mia, karena pemberian Papa. Mia…," aku tak meneruskan kalimatku. Mama menghapus air mata yang mengalir perlahan di pipiku. Kulihat mata Mama pun berkaca-kaca.
"Mama juga minta maaf, Sayang. Mama tak tahu kalau baju itu sengaja tak pernah kamu pakai dan sengaja kamu simpan sebagai kenang-kenangan. Mama pikir akan lebih berguna bila diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Mama memang sudah bantu Pak Udi, tapi tentu saja tidak cukup. Nah, sekarang kita makan saja dulu, ya…" Suara Mama begitu lembut dan sejuk di telingaku. Aku mengangguk.
Selama makan pikiranku melayang pada Surti dan keluarganya. Karena mata Pak Udi buta, ia tak bisa bekerja lagi untuk membiayai keluarganya. Ah, aku jadi risih. Di hadapanku saat ini terhidang bermacam lauk pauk. Dan aku barusan membeli sepotong baju yang harganya lumayan, masih ditambah sepasang sepatu dan sandal. Sementara Surti? Jangankan memikirkan berbagai kebutuhan Lebaran. Untuk makan sahur dan berbuka puasa saja harus sesederhana mungkin. Tapi… tetap saja, tak mungkin bagiku memberikan gaun indah dari Papa itu untuk Surti.
"Ma…, begini saja. Mia akan ambil sebagian tabungan Mia. Lalu tolong Mama belikan baju Lebaran untuk Surti," kataku memecahkan keheningan.
Mama tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Mama senang sekali mendengarnya. Berarti kamu sudah mau membagi rejekimu pada orang lain," ujar Mama seraya memelukku. "Semoga Tuhan selalu memberi kita kekuatan untuk melakukan kebajikan!"
|