PInter
Warung Hidup

Oleh: Wahyu Noor S.(Bobo No. 30/XXVIII)


Baru sebulan kami pindah ke desa Karangsari. Menempati rumah dinas SD 2. Di situlah Ayah mengajar. Dulu kami mengontrak rumah agak ke kota. Jaraknya jauh dengan SD 2 Karangsari. Akibatnya Ayah sering terlambat datang. Kepala sekolah lantas menegur. Dan ... apa boleh buat, kami pun pindah kesini. Di desa Karangsari yang sepi, di daerah pegunungan yang masih alami.
Menyenangkan memang. Sayangnya, warung-warung di desa ini tidak menjual sayur-sayuran. Selain, tempe, tahu, ikan asin, atau sebangsa kerupuk. Itu karena setiap rumah penduduk memiliki kebun sayuran, alias "warung hidup". Jadi, kalau ada penjual sayur-sayuran, siapa yang mau membeli?
Untuk mendapatkan sayuran, Ibu mesti ke pasar kabupaten. Memakan waktu satu jam perjalanan. Aduuuh ... kasihan Ibu. Sebab jalan kesana menurun dan aspalnya sudah rusak. Di dalam mobil rasanya seperti ditampi. Sedang pasar terdekat hanya buka setiap hari Selasa. Nah, membeli sayuran untuk persediaan satu minggu jelas keburu busuk. Iya kalau punya kulkas. Tapi... hihi, boro-boro kulkas, listrik pun belum masuk di desa ini.
Lantas aku dan Ayah sepakat membuat "warung hidup". Kebetulan di belakang rumah dinas ini masih tersisa tanah kosong. Cukup untuk bertanam sayur-sayuran seperti sawi, buncis, kacang panjang dan bayam. Juga masih bisa kami selipkan pohon cabe, tomat, dan leunca untuk lalapan. Seminggu lalu kami telah mulai menanami sekeliling kebun dengan batang singkong. Kegunaannya sebagai pagar sekaligus sumber sayuran. Nah, tinggal menebar bibit sayur mayur yang kami kehendaki.
Sore ini, aku menyusur jalanan desa yang teduh. Melintas di depan rumah Rido, aku membelok masuk ke halaman. Di atas pohon jambu bertengger Rido, Adnan, dan Zen. Saking asyiknya ngobrol, mereka tidak melihat aku.
"Hoi!" seruku dari bawah pohon jambu.
Seketika mereka menoleh ke bawah. Dan serunya serentak , "Naik sekalian deh!"
"Tidak mau. Aku lagi mencari sesuatu. Bi-bit sa-yu-ran, anak-anak," lagakku seperti guru. "Tidak enak makan tanpa sayuran sedap menghijau," lanjutku serius.
"Aku punya, Pak Guru. Tapi tolong ajarkan aku PR matematika," kata Rido sembari melompat turun. Hupp hupp ... Adnan dan Zen menirunya.
"Iya, bagaimana sih rumus-rumusnya, Ga?" tanya Adnan.
Akhirnya kami belajar bersama di teras rumah Rido. Rido, Adnan dan Zen adalah teman baruku di kelas 5 SD 2 Karangsari. Aku menerangkan sebisaku pada mereka, yang mengaku lemah dalam pelajaran matematika. Apa lantas aku pintar matematika? Sst, tidak sombong. Aku pernah menjadi juara teladan tingkat kecamatan untuk bidang studi matematika, ketika masih sekolah di SD terdahulu sebelum pindah di Karangsari.
Selesai mengerjakan PR matematika, Rido, Zen, dan Adnan tiba-tiba berbisik-bisik. Lalu berseru, "Bibit sayuran apakah yang Pak Guru butuhkan?"
Aku mengangkat alis tinggi-tinggi. Lalu, "Bibit sawi, buncis, kacang panjang, bayam, cabe, tomat, leunca dan ... sebagainya."
"Aku punya bibit bayam dan sawi," kata Rido.
"Aku punya bibit buncis dan kacang panjang," sambung Zen.
"Aku punya bibit cabe, tomat, leunca," ujar Adnan tak mau kalah. "Dan ... dan apa?" lanjutnya berbisik pada Rido dan Zen.
"Dan sebagainya!" seru Rido dan Zen serentak. Kami tertawa hahaha ...
Tak sampai lima menit bibit-bibit sayuran yang kubutuhkan telah tersedia. Kami lalu menuju ke rumahku. Di kebun belakang itu, aku, Rido, Zen, dan Adnan sibuk bekerja.
"Lubangnya kurang dalam, Ga," ujar Zen saat aku menanam bibit buncis. "Nanti biji buncis ini terangkat bersamaan tumbuhnya daun. Sementara akar di bawah akan menyangganya. Jadi kalau kurang dalam bisa-bisa akar tercabut karena tak sanggup menahan beban."
Setelah sesaat tercenung aku mengangguk-angguk. Rido dan Adnan menanam bibit kacang panjang. Caranya sama seperti menanam bibit buncis.
"Selesai sudah!" seruku begitu bibit buncis selesai ditanam. "Sini, aku yang menanam bibit sawi," lanjutku penuh semangat. Aku raih bibit sawi dalam kantung plastik kecil dari tangan Zen. Namun ketika aku mulai membuat lubang-lubang secara berbaris seperti menanam buncis dan kacang panjang, Zen berkata, "Cara menanam bibit sawi cukup ditebar di bedeng, Ga. Bila sudah tumbuh barulah dipencar secara berbaris."
Gerakanku terhenti seketika. Lalu, "Ooo ..." aku benar-benar takjub.
"Begitu juga cara menanam cabe, tomat, dan leunca," ujar Adnan.
"Untuk bayam, karena ini bayam cabut, ditebar lantas bila sudah tumbuh tak usah dipencar. Bila masanya dituai ya cukup dicabut dan disayur," kata Rido.
"Ooo ...," aku mengangguk senang. Betul-betul senang. "Untuk urusan sayur-sayuran agaknya kalian ahlinya," lanjutku memuji.
"Dan untuk urusan matematika, kamulah pakarnya," balas Rido.
"Nah, bagaimana kalau kita barter ilmu?" kata Zen. "Kita belajar kelompok. Belajar ilmu pertanian dan ilmu pasti bersama-sama," jawab Zen.
"Oke! Biar kita kaya ilmu," sorakku.
"Bagus kalian mau mengadakan belajar kelompok," ujar Ayah tiba-tiba. Muncul di mulut pintu bersama Ibu. "Mulailah esok sore," lanjutnya.
"Setuju!" seru kami berempat.
"Terima kasih untuk 'warung hidup'-nya, anak-anak," cetus Ibu kemudian. Kami berempat mengangguk lega.
Seminggu kemudian. Bibit sayuran yang kami tanam mulai bertunas. Termasuk pohon singkong yang mengelilingi tepi kebun. Sore ini, kami telah selesai belajar kelompok. Pas di rumahku. Kami menengok "warung hidup" yang sudah mulai jadi. Ah, bahagia sekali membayangkan halaman ini akan menjadi kebun sayur yang subur menghijau. Sedap dipandang, sedap disantap.
Aku juga bahagia tinggal di desa Karangsari. Alami tanpa polusi. Penduduknya sederhana, suka bekerjasama, dan tak bersaing harta.


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.